perjalanan panjang menuju “home sweet home”

Sekarang aku berada di sebuah bus bernomor angkutan 33. Aku duduk dibaris ketiga dari depan dan menduduki bangku kedua. Aku sepertinya salah memili tempat duduk, kenapa? Dalam hatiku bertanya-tanya sendiri. Didalam. Otakku yang lain menjawab “karena disampingku ada seorang bapak2 yang sedang tertidur pulas dan arah tubuhnya condong kekanan dan kekiri. Wajahnya pun tak ramah karena iya berkumis tebal. Itu pikirku” kini seorang wanita berparas kekar duduk di sampingku. Posisiku sudah di tengah.
Untuk memperoleh bus ini sepertinya aga berlebihan juga, sebelumnya aku sudah menaiki bus yang sama tapi bus tersebut sudah ta ada bangku kosong. Kalau mau aku harus duduk didepan dashboard bus. Aku memilih turun dan mencari bus lain dengan harapan mendapat bus non AC agar lebih cepat dan sedikit lebih murah lebih-lebih memperoleh kursi kosong. Aku akhirnya turun dan memutuskan untuk berjalan berlawan arah berharap memperoleh yang ku inginkan. Tapi sayang baru berjalan beberapa meter bus yang kuingin kan lewat, aku tidak bisa naik karena ada didalam pagar yang memagari trotoar pejalan kaki. Menyesal juga rasanya mengapa tadi diriku memutuskan untuk ber jalan. Tapi ga apa-apa saya masih berharap ada bus yang lain.
Senyum kecut terbentuk di mukaku karena bus lain lewat tapi bus tersebut tidak lewat di bahu jalan. Rasa sesalku datang kembali menyesali kenapa diriku memutuskan untuk jalan mencari yang lain. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari tempat tunggu bus yang mudah untuk memberhentikan jika ada bus yang lewat. Tak beberapa lama bus yang sekarang saya naiki lewat. Bus AC berwarna biru dan kosong, itu yang terpenting. Aku bisa memilih kursi mana yang akan aku duduki. Bersyukur aku bisa duduk dan bisa menulis 🙂

Aku lapar!! Itu yang kurasakan sekarang, mendengar sang sopir menyerukan kepada penumpang diluar sana bahwa ada macet total di jalan depan sana. Yang ada didalam otakku sekarang adalah “apa benar yang bapak itu serukan? Atau hanya menarik penumpang agar menaiki busnya”. Jam berapa aku samapi kerumah kalau macet itu benar adanya.
Bus yang kunaiki jalan kembali setelah berhenti sebentar di “tol kebon jeruk” untuk menurunkan penumpang dan mengisi kembali penumpang yang ingin pulang ke daerah “islamic, tangerang atau rest area” seperti diriku. Macet belum terlihat, kini bus sudah penuh penumpang dan sudah ada yang berdiri karena tidak dapat kursi. Kini yang duduk disamping kanan ku digantikan oleh perempuan berjilbab. Wajahnya berbeda sekali dengan penumpang sebelumnya. Sama seperti diriku dia sibuk memainkan ponselnya. Memainkan salah satu social networking, mengecek apakah ada pesan yang bisa diteruskan agar memperoleh balasan. Mungkin ini memang salah satu cara untuk menghilangkan rasa jenuh selain tidur.

Ahh selamat datang macet, tidak jauh berbeda dengan kemarin. Macet panjang pun terjadi lagi. Bedanya hari ini saya bisa duduk manis dan tidak kepanasan. Memang sudah menjadi kebiasaan di jalan tol ini macet di jam-jam orang mau berangkat kerja dan jam pulang kantor. Tarif tol yang baru saja naik tidak berpengaruh terhadap layannannya.
Kalau keadaan seperti ini bus AC pun terasa panas. Jumlah penumpang dengan jumlah AC tidak sebanding sehingga kualitas udara pun tidak baik.

Tak terasa aku akan segera turun, dan melanjutkan perjalanan ku dengan motor menuju rumah tercinta.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s